16 Agustus 2012

BERAWAL DARI NAMA


Berawal dari nama, kita akan mendapat jutaan cerita. Begitu pula dari judul, maka akan ada jutaan makna yang tercipta. Pernahkah kita mencoba mengingat beberapa hal di masa lalu yang sempat terkorupsi memori? Sebuah nama teman bermain sewaktu kecil? Siapa tetangga yang sering memberi bingkisan mungil? Atau pada apa yang terlintas pada benak anda saat ini juga? Jutaan nama dan cerita memberi kesempatan pada pesan. Jutaan pasang mata, telinga, dan jutaan hati pula yang membuat hari-hari menjadi bernilai.

Di sela-sela cerita, seringkali timbul tanda tanya, tanda seru, tanda bimbang, tanda hilang, tanda patah, tanda hancur, tanda bangkit, serta sejuta tanda lainnya yang sebenarnya adalah bingkisan tak terduga. Tanda di mana sebuah nama dapat merubah bentuk tanpa sengaja. Dari bayi hingga tumbuh berusia puluh. Dari sopan hingga bertingkah laku liar. Dari sayang menjadi tak termaafkan. Atau dari nol menjadi sebuah satu. Banyak hal yang berubah seiring dengan banyaknya nama-nama yang menemukan diri kita.

Ada yang mengaburkan rasa sakit, ada yang menyemangati dengan cinta, ada yang menyakitkan dengan dendam, ada yang melihat lewat tatapan dalam, ada yang menuntut untuk dibahagiakan. Banyak nama, maka banyak hal yang perlu kita mengerti. Setiap nama setidaknya memiliki sarang untuk bersembunyi. Lalu, tugas kita adalah untuk menemukan sarang itu. Dan dari semua sarang-sarang yang kita kumpulkan, seharusnya satu hal akan tersadarkan; bahwa menjadi manusia memang selalu erat dengan ketidaksempurnaan. Dan banyak ketidaksempurnaan yang diam karena mereka hanya sanggup menempatkannya tetap di sarang. Bagai orang bahagia yang cacat, bukan orang cacat yang bahagia.

Sebuah nama juga tidak akan selalu abadi. Berapa kali kita bertemu dengan wajah lama dan kita lupa akan nama? Berapa kali kita sadar untuk bertanya kabar pada nama yang telah usang? Bahkan terkadang sebuah nama yang telah tiada hanya akan berlalu begitu saja. Phonebook berisi daftar nama-nama baru, menggantikan nama-nama terdahulu yang terabaikan. Begitu banyak perpisahan menghapuskan ingatan, sedangkan begitu banyak pertemuan menggantikan perpisahan-perpisahan. Nama yang selalu abadi adalah sebuah nama yang selalu bisa membuat kita terbang tinggi sekaligus yang dengan gampang membuat kita jatuh. Mereka tidak akan termakan detik sebab mereka sebenarnya adalah tempat untuk belajar.

Nama dan cerita. Seperti luka dan bahagia. Tidak akan terlupa karena semua adalah bagian dari rentang metamorfosa. Meskipun pernah tertatih, perih, namun selalu akan ada saat dimana semua hal itu membuat bibir kita kembali tertawa. Bahwa yang terpenting adalah bukan karena sekarang kita bahagia saja, namun bagaimana belajar untuk meraih kebahagiaan tersebut dari sejuta nama dalam hidup kita.

Dan jangan lupa, selalu ada titik di akhir cerita. Selalu ada rangkuman nama-nama yang telah berbagi waktu berhubungan dengan jiwa.. 

Catatan: Telah diterbitkan di halaman persembahan skripsi penulis th. 2010.

18 Juli 2012

CATATAN KEMATIAN


Mulai hari ini aku tidak akan berkata apa-apa. Tak ada lagi diskusi personal. Tak ada lagi uluran tangan. Tak ada lagi pengertian. Tak akan ada lagi kata-kata sahabat. Tak ada lagi senyuman sindir dari rasa yang retak. Aku jahat. Sangat jahat, hingga aku sadar harus pergi jauh. Aku ingin lari dari semua ini, tapi kemana? Jalan bercabang-cabang membuat pikiran bertemu gundukan ilalang. Sementara nalar tak berkembang. Realistis terhadang. Dan inti dari segalanya, kebahagiaan mengambang.

Kamu bajingan. Kamu brengsek. Kamu anjing. Kamu babi. Puaskah aku mengatakan segalanya? Belum. Karena aku tahu kamu tidak seburuk itu. Tapi aku hanya ingin meluapkannya. Aku akhirnya bisa sekejam ini. Bisa tidak semunafik ini. Bisa benar-benar lepas mencaci maki. Aku hanya ingin kamu tahu bahwa aku tidak ingin mengakhiri. Bukan karena aku memikirkan sisa-sisa hati yang bersetubuh padamu, tapi karena otakku hanya milik iblis, jin, atau apalah itu. Jadi aku telah  memutuskannya. Telah bulat, tak bertekad, namun nekat kulakukan.

Sekali lagi aku ingin menjadi orang yang sangat tidak munafik. Aku ingin jika kau melihatku nanti, engkau tidak akan menyesal, engkau tidak akan terisak-isak hingga mulutmu ternganga lebar, berlutut kaku di depan darah-darah yang telah merembes pada sela-sela serat kainmu. Aku tidak ingin suatu saat ada rasa bersalah yang akan menancap pada setiap detik kau melangkah. Dan aku juga tidak ingin kamu berteriak-teriak dan terus berteriak “Bodoh”. Sebab aku tidak bodoh. Kalaupun ada yang bodoh, kamu pasti sudah mengerti itu siapa. Kalaupun bukan bodoh, anggap saja ini sebuah hadiah atas permainan yang kita lakukan. Surprise!! Hadiah utama di depan mata.

Selamat tinggal. Pasti engkau akhirnya lega. Begitu cepat aku mampu menyelesaikan segala kebingungan kita. Begitu cepat kenangan yang pernah ada tak akan bisa direkontruksikan ulang. Begitu cepat kau menghilangkan.

Salam dari dosa.