Mulai hari ini aku tidak akan
berkata apa-apa. Tak ada lagi diskusi personal. Tak ada lagi uluran tangan. Tak
ada lagi pengertian. Tak akan ada lagi kata-kata sahabat. Tak ada lagi senyuman
sindir dari rasa yang retak. Aku jahat. Sangat jahat, hingga aku sadar harus
pergi jauh. Aku ingin lari dari semua ini, tapi kemana? Jalan bercabang-cabang
membuat pikiran bertemu gundukan ilalang. Sementara nalar tak berkembang.
Realistis terhadang. Dan inti dari segalanya, kebahagiaan mengambang.
Kamu bajingan. Kamu brengsek.
Kamu anjing. Kamu babi. Puaskah aku mengatakan segalanya? Belum. Karena aku
tahu kamu tidak seburuk itu. Tapi aku hanya ingin meluapkannya. Aku akhirnya
bisa sekejam ini. Bisa tidak semunafik ini. Bisa benar-benar lepas mencaci maki.
Aku hanya ingin kamu tahu bahwa aku tidak ingin mengakhiri. Bukan karena aku
memikirkan sisa-sisa hati yang bersetubuh padamu, tapi karena otakku hanya
milik iblis, jin, atau apalah itu. Jadi aku telah memutuskannya. Telah bulat, tak bertekad,
namun nekat kulakukan.
Sekali lagi aku ingin menjadi
orang yang sangat tidak munafik. Aku ingin jika kau melihatku nanti, engkau
tidak akan menyesal, engkau tidak akan terisak-isak hingga mulutmu ternganga
lebar, berlutut kaku di depan darah-darah yang telah merembes pada sela-sela
serat kainmu. Aku tidak ingin suatu saat ada rasa bersalah yang akan menancap
pada setiap detik kau melangkah. Dan aku juga tidak ingin kamu berteriak-teriak
dan terus berteriak “Bodoh”. Sebab aku tidak bodoh. Kalaupun ada yang bodoh,
kamu pasti sudah mengerti itu siapa. Kalaupun bukan bodoh, anggap saja ini
sebuah hadiah atas permainan yang kita lakukan. Surprise!! Hadiah utama di
depan mata.
Selamat tinggal. Pasti engkau
akhirnya lega. Begitu cepat aku mampu menyelesaikan segala kebingungan kita.
Begitu cepat kenangan yang pernah ada tak akan bisa direkontruksikan ulang.
Begitu cepat kau menghilangkan.