16 April 2011

PERTEMUAN

Hari ini kami akan dipertemukan kembali. Pertemuan ketiga yang akhirnya bisa terjadi setelah setahun lebih tiga bulan terhenti. Tidak sabar rasanya melihat kembali senyuman itu. Senyum dengan gigi yang berbaris rapi ala model iklan pasta gigi. Kalau kaca di pusat perbelanjaan ini seratus, mungkin hampir sebanyak itulah saya akan bersiap mencuri lirik. Apakah rambut saya tetap dengan kiblat semula? Apa resleting celana tidak menganga? Apa belahan dada tidak terlalu turun dan sebagainya. Entah mengapa pertemuan ini membuat saya khawatir. Ya, saya khawatir pertemuan ini membuat hati makin larut dalam ilusi yang dirancang dengan versi pribadi.

Dua pertemuan kami terdahulu berlangsung di kota lain. Pertemuan sederhana di sebuah kafe beraroma coklat Belgia. Sebenarnya saya benci kopi darat, tapi karena ia terlihat antusias maka egopun lelah untuk terus menghindar. Kami sudah banyak bersilat lidah di kolom chat, tertawa, tersenyum oleh kata-kata. Mungkin waktu itu yang ada di pikirannya adalah ingin menemui fakta. Ya, saya sangat ingat hari itu. Hari di mana saya pulang dengan berbunga-bunga, lalu sekejap meneteskan air mata ketika ia mengirim pesan singkat, “Thanks untuk hari ini, tapi kamu beda ya ternyata”. Inilah yang awalnya membuat saya benci pertemuan. Ternyata memang dia lebih tampan dari fotonya dan saya hanya selangkah lebih lihai mengedit tampilan muka. Tapi, percakapan kami tidak berhenti begitu saja. Ia melanjutkan ke pertemuan kedua dan perlahan saya mengerti bahwa harga yang bisa dipetik dari dialog kami adalah nilai kejujurannya. Mengapa perlu marah untuk yang sudah berusaha jujur di hadapan kita?

Sudah satu bulan lebih saya di Jakarta. Memutuskan untuk mengejar cita-cita sekaligus ingin menemaninya kalau tiba-tiba ia berduka. Setelah merancang pertemuan cukup lama, baru hari ini jadwalnya leluasa. Saya masih meraba-raba letak tempat yang ia tunjuk. Satu hal yang tidak pernah luput ketika menjajah kota baru, tersesat. Bahkan di saat melewati lorong brand-brand ternama. Kini menemukannya makin terasa seperti petualangan mencari harta. Ah, ia memang harta. Siapapun yang menyia-nyiakannya pasti akan menyesal di kehidupan berikutnya.

Tidak lama, wajahnya mulai muncul dari arah eskalator, melirik polos sudut-sudut. Menemukan yang sedang ditunggunya sedari tadi. Tampak hari ini ia masih memakai topi yang dibelinya pekan lalu, kemeja flannel merah favorit, sneaker hitam seperti biasa, genggaman tumbler Starbucks di tangan kanannya, dan tentu saja satu bingkisan senyum yang tak pernah terlupa. Seketika saya mulai melayang entah kemana dengan gaya bidadari gagal ketika mencoba membalas sapanya. Ia lalu ijin mampir ke toilet sebentar. Ekspresi letupan tak beraturanpun mulai dikeluarkan tanpa mengada-ada.

Kami lalu melaju ke sebuah restoran pasta. Percakapan kami berlangsung seperti biasa, penuh canda dan fakta. Senyumnya yang mahalebar mungkin bisa saja membungkus drama kesibukan di kantor atau mengambangkan sejenak masalah dengan kekasihnya. Lagipula senang rasanya jika melihat ia bisa merasa bahagia, tidak ingin menodainya dengan mengungkit-ungkit celah gelap yang telah susah payah ditimbun di dada. Ya, saya tahu mungkin ini terkesan naif. Saya terkadang hanya bisa berharap menjadi amunisi kebahagiaan ketika pikirannya telah kacau di mana-mana, hanya ingin melemaskan otot-otot tegang yang ada di pusat sarafnya, menggengam hatinya dengan sentuhan hangat teh hijau, hingga mengantarnya tidur dengan doa dan beberapa ucapan semoga. Ya, saya sadar mungkin cinta itu tidak segampang ketika diungkapkan. Mungkin juga tidak perlu diungkapkan dan lebih baik berjalan dengan sendirinya. Atau mungkin ini juga bukan cinta, mungkin saya hanya ingin menjaga dan memastikan bahwa ia baik-baik saja.

Tapi benar, saya memang benci pertemuan. Betapa saya jadi gila setelahnya. Betapa saya masih tersenyum sendiri ketika mengingat kartu kreditnya ditolak. Betapa saya menikmati celotehnya sepanjang garpu dan sendok bergolak. Betapa saya kagum ia masih sempat menuliskan satu kalimat akhir di kolom chat sebelum memejamkan mata. Betapa saya menghargai ketika hari ini ia berusaha membahagiakan seseorang dengan presentase sekitar 1% dari 1000% yang ia punya atau seseorang seharga seribu rupiah dari sejuta dollar di dompet hatinya. Entahlah siapa saya, entah apa arti saya di harinya. Entah juga rasa ini akan menjadi apa.

Terkadang saya harus mengakui bahwa benci itu berupa bulir-bulir dari harapan yang berlebih. Tapi, rupanya ia sudah merencanakan untuk pertemuan keempat. Entahlah saya harus benci atau tidak. Lagi-lagi saya enggan menolak.

Tidak ada komentar: