Tuhan, terima kasih telah membuatku mati sejenak di atas meja operasi tadi. Membiarkan bagian tengah dadaku digeledah lalu jantungku perlahan-lahan diangkat dari balik rongga rusukku yang berwarna pekat akibat tetes demi tetes darah yang tercecer tumpah. Sedikit sejarah, aku bukan tipe pengkonsumsi lemak jenuh yang mengakibatkan kadar kolesterol menumpuk, bukan pula tipe pengidap serangan jantung stadium atas usia lapuk. Kondisi kesehatanku cukup normal. Hanya perokok pasif, pelahap selektif, serta olahraga cukup dengan berjalan mengitari empat lantai kawasan rawan konsumtif.
Kali ini mungkin atas nama kesialan atau mungkin memang telah digariskan. Jantungku berfungsi sedikit abnormal. Benar-benar dapat berdetak hingga berpuluh kali tiap menitnya, dapat pula melambat seketika. Namun, akhir-akhir ini cenderung nyeri dalam jangka lama. Tanganku terkadang reflek mendekap ketika hal itu datang dengan cepat. Membungkam bahasa yang beku dengan satu teriakan tanpa nada. Hanya ada mulut ternganga.
Aku sadar aliran hemoglobin yang berlari menyusuri jantung akan sangat mempengaruhi kinerja tubuh manusia. Bagaimana mereka berpikir, bersikap, berkata membutuhkan sebuah proses pengambilan energi yang dititipkan pada darah. Untuk itu, saat ini aku beruntung dapat melakukan transplantasi jantung. Secara medis, cukup berbahaya. Tapi, akan lebih berbahaya lagi jika aku tidak berbuat apa-apa. Aku tidak perlu tahu akan dapat jantung berbentuk apa, berjenis apa, ataupun sepeninggalan siapa. Hanya perlu satu kepastian dari harapan bahwa hidup ini bisa kembali normal nantinya.
Tahap demi tahap operasi telah berhasil dilalui dalam beberapa hari. Kulihat perban tebal yang melingkari dadaku masih terpasang menutupi jahitan-jahitan yang belum mengering. Inilah sebenarnya sebuah kartu tarot kematian. Proses kelahiran ulang menjadi manusia baru, memberi nyawa pada raga yang dulu tersiksa. Bagai Kijang kotak yang meraih mimpi mencoba mesin F1. Sensasi yang luar biasa besarnya.
Beberapa sosok terdekat lalu bergantian menjenguk, menghadirkan senyum jujur yang begitu manjur, hingga akhirnya datang seseorang yang menjadikanku terketuk. Aku pikir kali ini jantungku akan baik-baik saja, akan sangat siap menghadapinya. Tapi nyatanya gejala abnormalitas itu muncul kembali. Detak kencang tak bisa dilawan, berdegup banyak tak beraturan.
Lalu aku menatap matanya dalam.
...
Maaf, aku masih sayang. Dan satu lagi maaf, aku belum bisa melupakan.
Mungkin lusa lebih baik cuci otak.
Kali ini mungkin atas nama kesialan atau mungkin memang telah digariskan. Jantungku berfungsi sedikit abnormal. Benar-benar dapat berdetak hingga berpuluh kali tiap menitnya, dapat pula melambat seketika. Namun, akhir-akhir ini cenderung nyeri dalam jangka lama. Tanganku terkadang reflek mendekap ketika hal itu datang dengan cepat. Membungkam bahasa yang beku dengan satu teriakan tanpa nada. Hanya ada mulut ternganga.
Aku sadar aliran hemoglobin yang berlari menyusuri jantung akan sangat mempengaruhi kinerja tubuh manusia. Bagaimana mereka berpikir, bersikap, berkata membutuhkan sebuah proses pengambilan energi yang dititipkan pada darah. Untuk itu, saat ini aku beruntung dapat melakukan transplantasi jantung. Secara medis, cukup berbahaya. Tapi, akan lebih berbahaya lagi jika aku tidak berbuat apa-apa. Aku tidak perlu tahu akan dapat jantung berbentuk apa, berjenis apa, ataupun sepeninggalan siapa. Hanya perlu satu kepastian dari harapan bahwa hidup ini bisa kembali normal nantinya.
Tahap demi tahap operasi telah berhasil dilalui dalam beberapa hari. Kulihat perban tebal yang melingkari dadaku masih terpasang menutupi jahitan-jahitan yang belum mengering. Inilah sebenarnya sebuah kartu tarot kematian. Proses kelahiran ulang menjadi manusia baru, memberi nyawa pada raga yang dulu tersiksa. Bagai Kijang kotak yang meraih mimpi mencoba mesin F1. Sensasi yang luar biasa besarnya.
Beberapa sosok terdekat lalu bergantian menjenguk, menghadirkan senyum jujur yang begitu manjur, hingga akhirnya datang seseorang yang menjadikanku terketuk. Aku pikir kali ini jantungku akan baik-baik saja, akan sangat siap menghadapinya. Tapi nyatanya gejala abnormalitas itu muncul kembali. Detak kencang tak bisa dilawan, berdegup banyak tak beraturan.
Lalu aku menatap matanya dalam.
...
Maaf, aku masih sayang. Dan satu lagi maaf, aku belum bisa melupakan.
Mungkin lusa lebih baik cuci otak.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar